SayyidAlwi atau Ammul Faqih (paman dari al-Faqih) yang wafat di Tarim pada 613 H ini memiliki seorang putra bernama Sayyid Abdul Malik. Itu artinya, al-Faqih al-Muqaddam adalah sepupu dari Sayyid Abdul Malik bin Alwi bin Muhammad Shahib Mirbath, kakek kelima Sunan Ampel Surabaya; kakek keenam Sunan Bonang dan Sunan Drajat atau Sayyid Qasim ijazahmbah kholil bangkalan dan sayyid muhammad bin alwi al maliki Orang2 soleh dan ulama zaman dulu tidak meninggalkan amalan dibawah ini .boleh dishare dan di amalkan semoga Istiqomah .😇🙏 Ts SetelahAs-Sayyid Alwi Al-Maliki wafat, putra beliau *As-Sayyid Muhammad* tampil sebagai penerus. Disamping mengajar di Masjidi Haram, beliau diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz- Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah bagian ilmu Hadith dan Usuluddin. SetelahAs-Sayyid Alawi Al-Maliki wafat, putra beliau (Abuya As-Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki Al-Hasani) tampil sebagai penerus. Disamping mengajar di Masjidil Haram, beliau juga diangkat sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz Jeddah dan Univesitas Ummul Qura Makkah dengan mata kuliah Ilmu Hadits dan Ushuluddin. AbuyaSayyid Muhammad Alawi Al-Maliki adalah orang yang super sibuk dengan kegiatan mengajar, mendidik, berdakwah, menulis, bersosialasi dan menemui banyak tamu. Bagi orang seperti beliau, waktu semenitpun sangat berarti sehingga sayang sekali bila digunakan untuk hal sepele. Jangankan Abuya, saya sendiri ketika sibuk dan fokus menulis kadang tidak sempat untuk makan seperti biasa karena dapat tabel perbedaan pembuluh darah berikut ini yang benar adalah. Jakarta - Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki merupakan Ulama Timur Tengah yang cukup tenar di Nusantara. Bukan hanya karena kealimannya, namun juga karena menjadi Guru bagi banyak Ulama di Alawi Al-Maliki merupakan seorang Sayyid, keturunan mulia yang nasabnya bersambung secara langsung dengan Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Imam Al-Hasan bin Ali RA. Dia merupakan pewaris keluarga Al-Maliki Al-Hasani di Mekkah yang yang lahir di Mekkah Arab Saudi pada tahun 1944 Hijriah ini dikenal sebagai sosok guru yang rendah hati di kalangan muridnya. Konon dia enggan mempertentangkan pendapat ulama satu dengan ulama lain, meski memiliki keilmuan yang cukup tinggi di bidang, Aqidah, Tafsir, Hadits, Sirah hingga Ushul Fiqih. Dalam kehidupannya, beliau selalu sabar dengan semua pihak yang berlawanan dengannya. Setiap pendapat ulama yang bertentangan dengannya, diterima dengan sabar dan mengambil hikmah dari hal tersebut. Serta berusaha menjernihkan suatu masalah dengan kenyataan dan dalil-dalil yang jitu. Bukan dengan emosi dan pertikaian yang tidak bermutu dan berkesudahan. Sayyid Muhammad tahu persis bahwa kelemahan Islam terdapat pada pertikaian para ulamanya. Karena dia sadar bahwa hal tersebut merupakan celah untuk 'musuh Islam'. Dengan penuh keikhlasan, dia selalu menghormati orang - orang yang tidak sependapat dan sealiran mengajarkan Islam, baik di Masjidil Haram atau di kediaman pribadinya, Sayyid Muhammad tidak membatasi pengajaran kepada batasan ilmu tertentu. Akan tetapi semua pelajaran yang diberikannya bisa diterima semua masyarakat, baik masyarakat awam atau terpelajar, semua bisa menerima dan semua bisa mencicipi apa yang diberikan Sayyid Muhammad. Pengajiannya tersebut biasa digelar selepas Salat Maghrib sampai Isya setiap Muhammad Al-Maliki juga kabarnya pernah membuat rumah yang besar dan dapat menampung ratusan murid per hari. Kediamannya tersebut terletak di Hay al Rashifah, pinggiran kota Mina, Arab pula setiap bulan Ramadan dan hari raya, dia selalu menerima semua tamu dan muridnya dengan tangan terbuka tanpa memilih golongan atau derajat. Semua mendapat penghargaan yang sama dan dapat mencicipi ilmu referensi yang ada, di kediaman Sayyid Muhammad Al-Maliki itulah para ulama-ulama hebat lahir dan membawa panji Rasulullah ke berbagai pelosok dunia. Ribuan muridnya bukan hanya menjadi Kiai atau ulama melainkan juga masuk ke dalam itu, murid Sayyid Muhammad Al-Maliki yang jumlahnya begitu banyak, berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Murid-muridnya belajar, makan, dan minum namun tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan Sayyid Muhammad Al-Maliki memberikan beasiswa kepada para santri sebagai uang saku. Setelah ilmunya dianggap cukup selama belajar beberapa tahun, para murid dipulangkan ke negara masing masing untuk mensyiarkan ulama yang telah mendapat gemblengan dari Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, mereka pintar dan terpelajar. Di samping menguasai bahasa Arab, mereka menguasai ilmu-ilmu agama yang cukup dalam untuk dijadikan marja' dan referensi di negara-negara Sayyid Muhammad Al-Maliki yaitu ingin mengangkat derajat dan martabat kaum Muslimin. Serta mendidik manusia yang berperilaku baik dalam muamalatnya kepada Allah dan kepada sesama, terhormat dalam perbuatan, tindakan, pikiran dan perasaannya. Diantara Ulama di Indonesia yang didik oleh Sayyid Maliki yaitu KH Maimoen Zubair, KH Ubaidillah Faqih, KH Ali Imran, KH Thohir al-Kaf, Hahib Abdul Qadir al-Haddad, Habib Naqib Madura, KH Ali Karror, KH Muhaimin, Habib Muhammad al-Haddad, KH Ihya' Ulumuddin dan masih banyak lagi. Para Ulama ini terhimpun dalam organisasi bernama Hai’ah Asshofwah yang menghimpun para murid Sayyid Maliki. Wafatnya Sayyid Muhammad Alawi Al-MalikiUlama ahlussunnah wa al-jama'ah yang karismatik itu meninggal dunia di usia 60 tahun pada 10 Mei 2004. Kabarnya, dia meninggal saat azan Subuh baru saja berkumandang di saat matahari masih menggantung di ufuk duka tersebut bertepatan 15 Ramadan 1425 Hijriah, Syekh Muhammad bin Alawi Al-Maliki menghembuskan nafas informasi yang beredar, guru para ulama itu, meninggal dunia saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Makkah. Saat kabar duka tersebut tersiar, kaum Muslimin setempat berbondong-bondong mendatangi kediamannya di pinggir kota Mina. Jumlah warga yang menghadiri prosesi pemakamannya diperkirakan tidak kurang dari satu juta orang. Mulai para pejabat, ulama internasional hingga murid-muridnya yang berasal dari berbagai hari lamanya pintu rumah almarhum terbuka. Hal itu agar tersedia waktu bagi ribuan orang yang hendak menyaksikan, untuk terakhir kalinya, wajah sang guru jenazah Sang Sayyid hendak dishalatkan di Masjidil Haram, ribuan warga Mekkah bergantian mengusung jenazahnya. Mereka melakukannya dengan menangis itu, toko-toko yang dilewati iring-iringan jenazah mematikan lampu sebagai tanda duka. Sampai di Masjidil Haram, lautan manusia mengikuti shalat jenazah. Setelah disalatkan, jasadnya dikebumikan di pemakaman Al-Ma’la. Letak kuburan Syekh Muhammad berada di samping makam Khadijah, istri Rasulullah diolah dari berbagai sumberjqf Kisah ini disampaikan oleh Al-Habib Sholeh Alaydrus seusai membaca tahlil kemudian diceritakan lagi oleh Al-Habib Quraisy Baharun Pimpinan Ponpes As-Shidqu Kuningan kepada jamaahnya. Dikisahkan, Sayyid Alawi Al-Maliki , seorang ulama besar Makkah ayah Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki memiliki sebuah rumah peristirahatan yang besar dan indah di kawasan Mina di pinggiran Kota Makkah. Kebetulan rumah itu berdampingan dengan sebuah suatu ketika beliau sekeluarga hendak pergi mengunjungi rumah tersebut. Setibanya di sana, keluarga beliau, istri dan anak-anaknya segera masuk ke dalam rumah, namun Sayyid Alawi tidak masuk. Beliau lebih tertarik dengan pemandangan yang ganjil ketika ia melihat para murid sekolah di samping rumahnya semua belajar di luar ruangan. Kursi dan papan tulisnya pun berada di luar ruangan. Maka beliau pun mendatangi mereka dan bertanya ada hal apa gerangan sampai para murid harus belajar di luar ruangan. Maka para guru dan murid menjawab bahwa gedung sekolah mereka sudah habis masa kontraknya dan mereka harus keluar hari itu juga dan tak tau tahu harus kemana. Seketika Sayyid Alawi bergegas kembali ke keluarganya yang sedang bersiap-siap untuk beristirahat di rumah mereka. Beliau berkata kepada anak istrinya, "Mari kita pulang, rumah ini bukan rumah kita lagi. Saya mewaqafkannya untuk madrasah sebelah yang lebih membutuhkan". Dan mereka pun pulang. Berlalulah beberapa waktu sampai akhirnya sepeninggal Sayyid Alawi, putra beliau Sayyid Abbas bertanya kepada abangnya Sayyid Muhammad Al-Maliki, "Kenapa ayah kita mewaqafkan rumah yang demikian indah dan luas kepada madarasah sedangkan saya sendiri anaknya belum punya rumah?Demikian terus menerus setiap bertemu Sayyid Abbas selalu menanyakan hal itu tanpa sekalipun dijawab oleh Sayyid Muhammad. Hingga suatu malam Beliau Sayyid Abbas bermimpi berjumpa Ayah Beliau Sayyid Alawi yang didapatinya sedang berada dalam kenikmatan alam kubur. Ayahnya berada di tempat yang indah dan jamuan makan yang luar biasa megahnya. Maka sang ayah berkata kepada Sayyid Abbasهذا من بركة البيت الي في منى يا عباسArtinyaIni semua berkah rumah yang aku wakafkan di Mina Ya Abbas. Maka ketika bangun, beliau sangat gembira dan paginya bergegas menuju rumah sang kakak Sayyid Muhammad Al-Maliki untuk menyampaikan mimpi tersebut. Ssampainya di sana sambil mendendangkan syair-syair maulid sebagai mana kebiasaan beliau ketika gembira beliau memasuki halaman kediaman sang kakak. Tiba-tiba dari jendela tingkat atas Abuya Sayyid Muhammad menyambut kedatangan adiknya sambil senyum berkataهذا من بركة البيت الي في منى يا عباسIni semua berkah rumah yang aku wakafkan di Mina Ya Abbas. Subhanallah, demikian kisah ulama yang mendermakan hartanya di jalan Allah. Hikmah yang bisa kita petik adalah kebenaran janji Allah atas ganjaran orang-orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Sayyid Alawi Al-Maliki?Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasani adalah salah seorang ulama besar Makkah pada abad lalu. Dia telah mengajar berbagai ilmu Islam di Masjidil Haram selama hampir 40 tahun. Ratusan murid dari seluruh dunia berguru kepadanya di Masjidil Haram. Beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 1328 Hijriyah. Hafal Al-Qur'an ketika berusia 10 tahun dan menjadi imam salat tarwih di Masjidilharam. Sayyid Alawi Al-Maliki selalu mengenakan jubah, serban imamah dan burdah atau rida yang biasa digunakan dan dikenakan Asyraf Makkah. Raja Faisal tidak akan membuat apa-apa keputusan berkaitan Makkah melainkan setelah meminta nasihat Sayyid Alawi. Beliau wafat pada tanggal 25 Shafar 1391 Hijriyah atau tahun 1971. Pemkaman Beliau merupakan yang terbesar di Makkah sejak seratus tahun. Dalam tempo 3 hari sejak pemakaman Beliau, Stasiun Radio Saudi hanya menyiarkan bacaan Al-Qur'an, sesuatu yang tidak pernah dilakukan melainkan hanya untuk Beliau. Semoga Allah Ta'ala merahmatinya.rhs About The BookThis book, considered one of the best about the sublime nature of the Prophet Muhammad, peace and blessings be upon him, comes at an important time when from an Islamic point of view – the prevailing secular consumerism in the West has given birth to an immorality – where even the elect of Allah’s creation – the Prophets and Messengers, may the peace and blessings of Allah be upon them, are not safe from being openly mocked or their lives ridiculed. In the East despotic rulers, the lack of leadership, external interference and sectarian division has opened up chasms of is in this atmosphere that this phenomenal book Muhammad the Perfect Man’ written by the leading Islamic scholar of recent times –Sayyid Muhammad ibn Alawi al-Maliki al-Hasani, is presented to the general readership in English for the first book ranks among the most important works of the author who writes with great erudition and love about the perfection of the last of the Messengers, Muhammad peace and blessings be upon him, sourcing every point from Islamic sources. The book starts with the perfection of the noble lineage of the Prophet, followed by the perfection of his physical form and discusses in detail the perfection of the Muhammadan heart. In the 300 pages that follow the Perfection of the Prophetic attributes are listed in detail - ranging from the perfection of the Prophetic knowledge, justice, mercy, humility, leadership, courage, generosity, patience, loyalty, wisdom, oratory and forbearance to name but just a few. The author contends from a traditional Islamic point of view that the message of Islam can only be perfect if the bringer of that message is himself author catalogues the Prophetic Perfections in great detail and provides scriptural evidence with meticulous scholarly serves as a timely reminder to the characteristics of the greatest human being that ever lived, and presents an insight into the noble Prophetic way, the behavioural code of conduct – the Sunna – of the Perfect Man, that he, may the peace and blessings of Allah be upon him, left behind for all peoples for all book is further augmented by Khalid Williams’ lucid and exemplary translation adding depth, breadth, clarity and making this within easy reach of the English speaking book is a modern day classic in the Arabic language – with it’s translation it is set to becomes the same in The AuthorThe author, Sayyid Muhammad son of Sayyid al-Maliki 1367 AH/1944 CE — 1425 AH/2004 CE, is an Idrisi Sharif whose ancestors emigrated to Mecca from Morocco. His father Sayyid 'Alawi was one of the most eminent and popular scholars of Mecca, as had been his grandfather, Sayyid 'Abbas. He was raised in a house of knowledge and spirituality and received tuition in all branches of Islamic knowledge from his father and then from the most eminent scholars in Mecca, Jeddah, and Medina at that was taught to love and respect people of high spiritual rank and became deeply attached to the great saints of his time, such as Habib 'Abdal-Qadir al-Saqqaf, Habib Ahmad Mashhur al-Haddad in Jeddah, Sayyid Hasan Fad'aq and Sayyid Muhammad Amin Kutbi in Cairo he received special attention from masters such as Shaykh Salih al-Ja'fari, the leading Malik' scholar of Egypt at the rime, Shaykh al-Hafiz al-Tijani, the well known traditionist, and Shaykh Abdul Halim Mahmud, rector of al-Azhar University. He made special trips to Upper Egypt to visit the great Shaykh Ahmad Ridwan. He also had connections with numerous masters in Syria, Lebanon, Iraq, Morocco, India, and Pakistan. Sayyid Muhammad became the foremost Sunni scholar of the Hijaz of his time. Beliau juga sering di sebut dengan julukan "Al-Muwaththa' berjalan", karena beliau hafal kitab al-Muwaththa' Imam Malik sejak umur 15 tahun. … Beliau adalah Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki al-Hasani. Beliau lahir di Mekkah pada tahun 1365 H. putra dari ulama besar yang mengajar di Masjidil Haram, Sayyid Alawi Abbas al-Maliki. Tidak di sangsikan lagi, beliau masih keturunan Rasulallah dan nasab beliau masih terkait dengan Sayyidina Hasan, cucu Rasulallah. Kecerdasan Sayyid Mahammad Alawi sudah ketara mulai masih kecil. Sudah dapat menghafal al-Qur'an ketika masih berusia 7 tahun dan sudah menghafal kitab hadits al-Muwaththa karya Imam Malik saat beliau berumur 15 tahun. Dan pada saat beliau berumur 25 tahun, beliau meraih gelar doktor ilmu hadits dengan predikat mumtaz excellent di bawah bimbingan ulama besar Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abu Zahrah. Rihlah ilmiyyah beliau cukup panjang dan luas di bawah bimbingan ulama-ulama shalihin yang amilin. Usia ke-26, beliau di kukuhkan sebagai guru besar ilmu hadits pada Universitas Ummul Qura, Makkah, Arab Saudi. Dan pada tanggal 2 Shafar 1421/ 6 Mei 2000 beliau di anugrahi gelar ustadziyyah atau professor dari Universitas al-Azhar asy-Syarif Kairo Mesir. Dan ini semua adalah prestasi luar biasa dan kebanggaan bagi pendudukk Kerajaan Arab Saudi, yang memang layak di capai putra ulama besar se keliber Sayyid Alawi al-Maliki. Pada tahun 1974, setahun setelah ayahandanya wafat, Sayyid Muhammad Alawi membuka pesantrennya di Utaibiyyah bersama dengan adik kandungnya, Sayyid Abbas. Namun pesantren tersebut akhirnya di pindah ke kawasan yang lebih luas tapi agak jauh dari Masjidil Haram, di pinggiran selatan kota Makkah di daerah Rusyaifah, yang kemudian di beri nama jalan al-Maliki. . Sebagai ulama besar, perjalanan hidupnya juga di penuhi onak dan duri ujian hidup seperti jejak ulama-ulama shalih pendahulunya. Pada tahun 80-an terjadi perselisihan antara beliau dengan beberapa ulama Wahhabi yang di sokong oleh Kerajaan Arab Saudi. Beliau di tuduh sesat, penyebar bid'ah dan khurafat. Beliau kemudian di kucilkan, hingga pernah mengungsi ke Madinah selama bulan Ramadhan. . Perselisihan tersebut semakin meruncing, namun akhirnya berhasil di cari jalan tengah dengan melakukan dialog atas rekomendasi atau saran dari Mufti Wahhabi yang kebetulan berseberangan pemikiran dan sangat membenci Sayyid Muhammad Alawi, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz . Dalam dialognya, Sayyid Muhammad Alawi beradu argumen dengan kuat saat berhadapan dengan ulama mantan Hakim Agung Arab Saudi, Syaikh Abdullah bin Mani'. . Dalam dialog atau perdebatan dengan ulama Wahhabi yang di tayangkan TV setempat DIMENANGKAN oleh Sayyid Muhammad Alawi dan beliau kian mendapat simpati. Konon, diam-diam keluarga Kerajaan Arab Saudi pun sebenarnya berpihak pada Sayyid Muhammad Alawi, namun takut jika di ketahui mayoritas penganut Wahhabi. Syaikh Abdullah bin Mani' kemudian menerbitkan catatan dialognya dalam bentuk kitab yang di beri judul Hiwar Ma'a al-Maliki Liraddi Munkaratihi wa Dhalalatihi Dialog dengan al-Maliki untuk menolak kemungkaran dan kesesatannya, sebuah kitab yang sekarang di 'gandrungi' dan di jadikan referensi penganut Wahhabi di Indonesia untuk mencabik-cabik Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan pengiku-pengikutnya, terutama dari keluarga Pondok Pesantren Wahhabi, Al-Furqon, Sedayu Gresik Jatim. . Sayyid Muhammad kemudian juga menerbitkan kitab terkenalnya, Mafahim Yajibu an Tushahhah Faham-Faham Yang Harus Di Luruskan. Kitab beliau ini mendapat sambuatan dan pengakuan luar biasa dari ulama-ulama besar di seluruh pelosok penjuru dunia. Lebih dari 40 ulama besar dunia ikut memberikan kata sambutan pada kitab tersebut. Selain dari pada itu, ulama-ulama Mesir, Tunisia, Kuwait dan sebagainya telah membuat pembelaan terhadap Sayyid Muhammad baik dengan tulisan maupun lisan. Kitab populer tersebut kemudian menjadi andalan segenap pengikut Ahlussunnah dalam mempertahankan pluralitas aliran di Tanah Suci Mekkah. . Namun ulama Wahhabi ternyata tidak berhenti begitu saja. Setelah Sayyid Muhammad Alawi menerbitkan kitabnya, Mafahim, ulama Wahhabi lain yang pernah menjabat sebagai Menteri Agama Arab Saudi, Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh menulis kitab yang menghantam pemikiran Sayyid Muhammad Alawi tersebut dengan judul Hadzihi Mafahimuna Ini adalah Faham-Faham Kami. Kitab ini juga menjadi referensi utama kelompok Wahhabi di Indonesia. Di Pondok Pesantren Wahhabi al-Furqan Sedayu Gresik, di terbitkan buku yang tidak selayaknya di tulis dengan judul Mengenal Lebih Dekat 'Syaikh'nya Nahdhatul Ulama, sebuah buku yang mengkritik dan menjelek-jelekkan keturunan Rasulallah Saw, yaitu Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki dan sangat melukai hati warga Nahdhiyyin. Kemudian, sebagai ulama yang ikhlas dan selalu berharap ridha dari Allah, Sayyid Muhammad Alawi pun mengajak kembali berdialog untuk mempersatukan persepsi dan pemahaman, namun ajakan tersebut tak tersambut. Hanya selang 10 tahun berikutnya, di laksanakan dialog Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah tepat pada tanggal 5-9 Dzul Qa'dah 1424 H. yang di prakarsai oleh Amir Abdullah bin Abdul Aziz. Dialog tersebut di adakan untuk mencari solusi tepat pasca terjadinya serangan pengeboman oleh kelompok teroris di Riyadh yang di sinyalir akibat dari buah melegalkan ektrimisme takfir dari kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya Salafiyyah. Meski di anggap terlambat oleh Sayyid Muhammad Alawi, namun beliau tetap menyambut gembira ajakan di alog tersebut. . Prilaku dzalim lain yang dialami Sayyid Muhammad Alawi adalah beliau pernah di keluarkan dari mengajar di Masjidil Haram oleh kelompok-kelompok Wahhabi. Namun semua itu di hadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Dan setelah di keluarkan dari mengajar di Masjidil Haram tersebut, beliau mengajar di kediaman beliau di jalan Alawi, Rushaifah, Makkah. Selain beliau adalah ulama panutan segenap muslimin ahlussunnah wal jama'ah, beliau juga aktif di bidang dakwah yang di gelar Rabithah Alam al-Islami Liga Dunia Islam dan Muktamar Alam Islami Organisasi Konferensi Islam atau OKI. Beliau juga termasuk salah satu ulama Islam yang aktif dan produktif dalam hal menulis kitab dalam berbagai tema, baik yang bermuatan da'wah, hadits, nasehat, sirah Nabawiyyah dan lain-lain. Berikut adalah daftar kitab-kitab yang di tulis oleh beliau 1. Al-Dzakhair al-Muhammadiyyah 2. Al-Mukhtar min Kalam al-Akhyar 3. Fadl al-Muwaththa' wa 'inayah al-Ummah al-Islamiyyah bih 4. Al-Insan al-Kamil 5. Al-Manhal al-Lathif fi Mushthalah al-Hadits 6. Al-Qawaid al-Asasiyyah fi Mushthalah al-Hadits 7. Al-Qawaid al-Asasiyyah fi Ulum al-Qur'an 8. Al-Hajj 9. Al-Muslimun Baina al-Waqi' wa al-Tajribah 10. Al-Musytasyriqun Baina al-Inshaf wa al-'Ashabiyyah 11. Wahuwa fi al Ufuq al-A'la 12. Al-Anwar al-Bahiyyah 13. Nidham al-Usrah 14. Labaik Allahumma Labaik 15. Haula Khashaish al-Qur'an 16. Zubdah al-Itqan fi Ulum al-Qur'an 17. Qul Hadzihi Sabili 18. Fi Sabili al-Hadyi wa Rasyad 19. Fi Rihabi Bait al-Haram 20. Kasyf al-Ghummah 21. Al-Qudwah al-Hasanah 22. Mafhum at-Thathawwur wa at-Tajdid fi as-Syari'ah al-Islamiyyah 23. Haula al-Ihtifal bi al-Maulid an-Nabawi 24. Al-Ziarah an-Nabawiyyah 25. Khashaish al-Ummah al-Muhammadiyyah 26. At-Tahdzir min al-Mujazafah bi at-Takfir 27. Adzkar Nabawiyyah wa Ad'iyyah Salafiyyah. 28. Al-Hushun al-Mani'ah 29. Dzakariyyat wa Munasabat 30. Ad-Da'wah al-Ishlahiyyah 31. Tarikh al-Hawadits wa al-Ahwal an-Nabawiyyah 32. Mukhtashar Sirah ar-Rasul 33. Syari'ah Allah al-Khalidah 34. Syarah Mandlumah al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh 35. Fath al-Qarib al-Mujib 'ala Tahdzib at-Targhib wa at-Tarhib 36. Ma La 'Ainun Ra'at 37. Anwar al-Masalik 38. Waqi'iyyat at-Tarbiyah al-Islamiyyah 39. Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah 40. Al-Muwaththa' bi Riwayat Ibn al-Qasim 41. Mafahim Yajib an Tushahhah 42. At-Thali' as-Sa'id 43. Huwa Allah 44. Abwab al-Faraj 45. Manhaj as-Salaf fi Fahm an-Nushush 46. Al-Ghuluw makalah pada debat Nasional ke-2 di Makkah Mukarramah Banyak orang yang menyebut Sayyid Muhammad Alawi sebagai al-allamah seorang yang sangat mengetahui ilmu agama atau ulama besar. Bahkan, Syaikh Muhammad Sulaiman Faraj, seorang ulama Makkah, menyebutnya al-arif billah wali. Beliau juga sering di sebut dengan julukan 'Al-Muwaththa' berjalan' kerena beliau hafal kitab al-Muwaththa' Imam Malik sejak umur 15 tahun. Akhlak beliau juga patut di tiru oleh segenap muslimin. Di tengah derasnya cacian, hinaan, pengkafiran, hujatan dan pensesatan dari ulama Wahhabi dan pengikutnya, beliau dengan tetap sabar dan tegar menerimanya, bahkan tak satupun kata beliau menghina balik terhadap musuh-musuhnya yang amat kejam dan tidak bertata krama Islam sama sekali, baik lewat lisan atau tulisan. Lihatlah kitab Mafahim Yajibu an Tushahah yang dengan hati ikhlas dan mengharap ridha dari Allah, beliau dengan santun dan tak satupun mencantumkan tulisan yang berbau menghina seseorang. Bahkan dalam mukaddimahnya, beliau menulis "Kami berlindung kepada Allah dari apabila kami termasuk dari orang-orang yang belajar ilmu karena tujuan beredebat dengan sombong atau mujadalah, sebagaimana sabda Rasulallah Saw. "Barang siapa mencari ilmu yang ilmunya akan di gunakan untuk mendebat orang-orang bodoh dengan sombong atau menyombongi ulama atau supaya orang-orang datang berduyun-duyun kepadanya, niscaya Allah akan memasukkan dia ke neraka" HR. at-Tirmidzi dan lain-lain. Dan kitabku ini sama dengan kitab-kitab lain yang menerima untuk di perbaiki dan di murajaah kembali. Dan aku –dengan anugrah dari Allah– mengakui hal itu di setiap karya-karyaku yang sudah aku tulis. Dan aku juga menulis di setiap akhir tulisan kitabku sungguh aku memohon taufiq dan kebenaran dari Allah dalam setiap yang aku tulis. Apabila isinya benar, maka itu semata-mata dari Allah, dan jika salah, maka itu dari aku pribadi dan ijtihadku. Dan aku berharap dari setiap orang yang melihat tulisanku untuk memberikan petunjuk irsyad dan menunjukkan kesalahan-kesalahku" Sungguh sebuah sikap tawadhu', inshaf dan penuh keikhlasan yang di tunjukkan ulama besar panutan Islam. Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki. Semoga Allah meridhainya! Beliau wafat tepat pada hari Jum'at yang barakah, tanggal 15 Ramadhan 1425 H. dan di makamkan di Jannataul Ma'la dekat dengan makam Sayyidah Khadijah al-Kubra, istri Rasulallah. . Dan alhamdulillah, sebelum beliau wafat, Allah telah memperlihatkan kejayaan dakwah dan tarbiyah beliau dengan lunturnya sedikit demi sedikit faham ekstrim Wahhabi dan beliau mendapat pengakuan yang selayaknya dari Kerajaan Saudi. .

putra sayyid muhammad al maliki